Bersabda Rasullah s.a.w “Kamu sekalian akan di kerumuni (dijarah) beramai-ramai oleh manusia lain, seperti halnya santapan dikerumuni orang-orang lapar, kamu semuanya seperti ibarat buih jumlahnya banyak tetapi tidak memiliki kualitas.”
Kapankah kenyataan ini terbukti ? yaitu setelah pasca jatuhnya “khilafah”. Kata orang saat itu keadaan umat islam terburuk.
Tahun 1924 kejatuhan Turki Usmani berarti penghapusan system khilafah oleh Kemal Attaturk. Itulah klimaks kemerosotan peranan “Politik Islam”. Padahal 14 abad ummat Islam memerankan politik maupun peradaban. Tegasnya tujuh abad pertama umat Islam penuh memegang peranan politik dan budaya dan tujuh abad kemudian mulai mundur berangsung dan bertepatan runtuhnya kekhalifahan Turki Usmani, runtuhlah kekuasaan Islam termasuk pemegang peradaban. Lalu apa saja Kemal Attaturk hingga kini ? bahkan turki disebut “The Sick Man”.
Dunia Islam tercabik-tercabik, terkapling-kapling oleh kolonialisme barat. Begitu akibat jatuhnya kekhalifahan, padahal kekhalifahan telah berumur 1300 tahun. Apa kata Kemal attatruk tentang kekhalifahan ? “itu nilai lama karenanya harus dihapuskan”. Pada 3 maret 1924 Majelis Besar Nasional Turki mengeluarkan hukum yang antara lain berbunyai : “ Kekhalifahan telah dihapus, ditutup, karena hakikatnya kekhalifahan pengertiannya adalah “Pemerintahan” ( Hukumah) dan “ Republik” (Jumhuriyah).
Kejatuhan System kekhalifahan itu bisa diibaratkan “kebun yang penuh tanaman yang subur dan bunga-bunga indah, tetapi tanpa pagar dan pelindung serta penjaga kebun yang bertanggung jawab”. Sebagaimana apa yang dikutip pada point pertama diatas. Bagaikan buih tak bermakna.
Kita Ikuti Sabda Rosul yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Baihaqi tentang periodesasi perjalanan ummat islam :
Kapankah kenyataan ini terbukti ? yaitu setelah pasca jatuhnya “khilafah”. Kata orang saat itu keadaan umat islam terburuk.
Tahun 1924 kejatuhan Turki Usmani berarti penghapusan system khilafah oleh Kemal Attaturk. Itulah klimaks kemerosotan peranan “Politik Islam”. Padahal 14 abad ummat Islam memerankan politik maupun peradaban. Tegasnya tujuh abad pertama umat Islam penuh memegang peranan politik dan budaya dan tujuh abad kemudian mulai mundur berangsung dan bertepatan runtuhnya kekhalifahan Turki Usmani, runtuhlah kekuasaan Islam termasuk pemegang peradaban. Lalu apa saja Kemal Attaturk hingga kini ? bahkan turki disebut “The Sick Man”.
Dunia Islam tercabik-tercabik, terkapling-kapling oleh kolonialisme barat. Begitu akibat jatuhnya kekhalifahan, padahal kekhalifahan telah berumur 1300 tahun. Apa kata Kemal attatruk tentang kekhalifahan ? “itu nilai lama karenanya harus dihapuskan”. Pada 3 maret 1924 Majelis Besar Nasional Turki mengeluarkan hukum yang antara lain berbunyai : “ Kekhalifahan telah dihapus, ditutup, karena hakikatnya kekhalifahan pengertiannya adalah “Pemerintahan” ( Hukumah) dan “ Republik” (Jumhuriyah).
Kejatuhan System kekhalifahan itu bisa diibaratkan “kebun yang penuh tanaman yang subur dan bunga-bunga indah, tetapi tanpa pagar dan pelindung serta penjaga kebun yang bertanggung jawab”. Sebagaimana apa yang dikutip pada point pertama diatas. Bagaikan buih tak bermakna.
Kita Ikuti Sabda Rosul yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Baihaqi tentang periodesasi perjalanan ummat islam :
Pertama : PeriodeNubuwwah, umat Islam hidup bersama Rasullah s.a.w;
Kedua : Periode Khilafah (atas minhaj Nubuwwah), yaitu selama masa Khulafour Rasydin, berlangsung selama ±30 tahun;
Ketiga : periode Mulkan Adhon, yaitu dimana para raja (penguasa) suka menindas (meski pemerintahannya secara formal Islam). Periode berakhirnya Khulafour al Rasyidin sampai berakhirnya dinasti Usmani di Turki. Terutama masa ini yang dipraktekkan oleh Ummayyah dan Dinasti Abbasyiah;
Keempat : Periode Mulkan Jabariyah. Masa ini dimana raja-raja atau penguasa yang sekuler. Habis keempat periode ini maka ummat Islam akan kembali ke masa awal Islam, tetapi bukan kepada kemasa kenabian, karena masa kenabian telah habis. Masa itu akan kembali ke kilafah ala Manhaj Nubuwwah. Lalu masa kita ini masa apa ? orang memberi nama masa “Mulkan Jabbariyah”.
Adanya pertanyaan. Apa tidak sadar ummat Islam kalau runtuhnya kekhalifahan itu akan berdampak buruk ? jabawannya. Disadari . mari kita ikuti kesadaran secara individual seperti :
Sayyid Jamaludin al Afghani yang melaungkan Gema pan Islamisme;
Dr. Muhammad Iqbal yang membangkitkan etos tauhid dikalangan umat;
Muhammad Rasyid ridla dan Muhammad Abduh yang isinya melangkapi keduanya; tetapi kurang menggarap bidang politik;
Dr. Muhammad Iqbal yang membangkitkan etos tauhid dikalangan umat;
Muhammad Rasyid ridla dan Muhammad Abduh yang isinya melangkapi keduanya; tetapi kurang menggarap bidang politik;
Upaya mengembalikan sistim kekhalifahan terus berjalan. Upaya ini dilakukan dengan mengadakan pertemuan resmi antar negara-negara islam. Kegiatan tersebut dimulai sejak tahun dua puluhan, antara lain :
Kongres kekhalifahan Islam di Kairo, 1926;
Kongres Muslim Dunia di Makkah, juga tahun 1926;
Konferensi Islam al Aqsho di Jerussalem, Desember, 1931;
Konferensi islam Internasional kedua di Karachi, 1949;
Konferensi Islam Internasional ketiga di Karachi, 1951;
Pertemuan Puncak Islam di Makkah, Agustus 1954;
Konferensi Muslim di Mogadishu, 1964.
Kongres Muslim Dunia di Makkah, juga tahun 1926;
Konferensi Islam al Aqsho di Jerussalem, Desember, 1931;
Konferensi islam Internasional kedua di Karachi, 1949;
Konferensi Islam Internasional ketiga di Karachi, 1951;
Pertemuan Puncak Islam di Makkah, Agustus 1954;
Konferensi Muslim di Mogadishu, 1964.
Dalam perjalannannya pertemuan tersebut: kurang mampu untuk menyatukan ummat islam. Disini Nampak Malaysia berinisiatif : membentuk “ Persemakmuran Muslim” (maklum istilah itu karena Malaysia bekas jajahan Inggris) = “Welfare Muslim” ; 1968; dan Nampak hasilnya memajukan solidaritas dan kerjsama berhasil positif.
Dari hasil pertemuan itu terbentuklah pertemuan-pertemuan menteri-,menteri luar negeri Muslim Kualalumpur sehubungan dengan pambakaran Masjid al Aqsho dengan mempercepat pertemuan puncak di Rabat 1969, yang kelak hasilnya terbentuklah “Organisasi Konferensi Islam” (OKI).
OKI sering juga melakukan pertemuan-pertemuan, dan nampaknya menuai hasil yang sama : tidak mampu menyatukan persatuan dan kesatuan antara umat islam didunia. keadaan disebabkan adanya beberapa hal, antara lain :
Dari hasil pertemuan itu terbentuklah pertemuan-pertemuan menteri-,menteri luar negeri Muslim Kualalumpur sehubungan dengan pambakaran Masjid al Aqsho dengan mempercepat pertemuan puncak di Rabat 1969, yang kelak hasilnya terbentuklah “Organisasi Konferensi Islam” (OKI).
OKI sering juga melakukan pertemuan-pertemuan, dan nampaknya menuai hasil yang sama : tidak mampu menyatukan persatuan dan kesatuan antara umat islam didunia. keadaan disebabkan adanya beberapa hal, antara lain :
Pemerintahan Negara-negara peserta kurang mampu menyakinkan pada rakyatnya;
Pemerintah-pemerintah Negara peserta konferensi / pertemuan : didapati sering melakukan tindakan kekerasan / menindas gerakan gerakan islam yang tidak sesuai dengan keinginan penguasa.
Para penguasa /peserta Negara-negara OKI : kurang memiliki orientasi keimanan, hasil pemikirannya didominasi pola sekulerism, tingkah lakunya kebarat-baratan, dan para pemimpinya memiliki pola hidup mewah dan fantastis.
Pemerintah-pemerintah Negara peserta konferensi / pertemuan : didapati sering melakukan tindakan kekerasan / menindas gerakan gerakan islam yang tidak sesuai dengan keinginan penguasa.
Para penguasa /peserta Negara-negara OKI : kurang memiliki orientasi keimanan, hasil pemikirannya didominasi pola sekulerism, tingkah lakunya kebarat-baratan, dan para pemimpinya memiliki pola hidup mewah dan fantastis.
Kemerosotan politik Islam dan peradaban Islam tidaklah menyebabkan Islam sebagai nilai baik (value System) hilang, hanya dalam hal ini perlu dicatat : nilai Islam sampai ke akar dasar atau hanya lapisan atas di Negara tersebut. Bisa diambil contoh:
Di Spayol nilai Islam hanya lapisan atas begitu lamanya Islam berkembang di Spayol dan malahan bahkan telah mencapai tingkat peradaban tinggi seperti tidak pernah ada eksamplar buku di perpustakaan hingga kini mampu mangatasi di Spayol.
Berbeda dengan di Negara-negara bekas jajahan komunis, Islam masuk ke lapisan bawah. Betapa kejamnya pemerintahan komunis, namun hingga kini nilai Islam tetap ajeg, begitu juga di mongol dan Pakistan.
Kita maklum bahwa diakui atau tidak bahwa kebudayaan Barat banyak embrionya dari Islam dan bahkan banyak diklaim olehnya. ( Lihat Lanjutan Tulisan........)