Monday, February 9, 2009

MENGAPA UMMAT ISLAM DIREMEHKAN (Lanjutan)

Ajaran Islam memang sebagai alternatif nilai, bila kita bandingkan dengan budaya barat, karena Islam mampu membawa ummatnya mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ini , diakui atau tidak. Islam yang berdasarkan Al-Quran terpelihara oleh Allah sendiri. Firman-Nya : “Aku menurunkan Aku memelihara”. Apabila kita Bicara peradaban, maka kita dapat merujuk ucapan Prof Gibb : “Islam is indeed much more than a system of theology, it is complete civilization”. Ini kita rujuk kepada :

“Hujjah tekstual”, tidak susah dipertanyakan lagi karena dasarnya bisa dilihat dan diteliti baik dari Al-Quran maupun dari As sunnah.
Hujjah intelektual” kita bisa serahkan kepada para pemaham ilmiah yang memiliki disiplin ilmu masing-masing seperti tersebut tadi, bebas dari kesan apologetic apapun. Kalau Prof. Gibb ahli sejarah, maka dirujuk lagi dengan Ernest Gellner seorang ahli sosiologi agama. Di antara ucapannya: “di antara berbagai agama yang ada”. Kata Gellner, “Islam adalah satu-satunya yang mampu mempertahankan system keimanan dalam abad modern ini tanpa banyak gangguan doktrinal. Dalam Islam, dan hanya dalam Islam”. Lanjut Gellner, pemurnian dan modernisasi, dan peneguhan umat di pihak lain, dapat dilakukan dalam satu perangkat bahasa yang sama …………… berkat warisan syariah yang tidak pernah lapuk. Kekokohan structural harus diangkat dari bawah, serta kemampuan mengambil alih dan merebut teknikalisme yang di monopoli Barat”.

Ungkapan dua kaum orientalis tadi baik Gibb maupun Gellner, bisa dirujuk ungkapan Professor Harun Nasution. Antara lain ungkapnya, “setiap berhujjah antar “Agama” maka Islam selalu unggul teristimewa dalam logika akidah”. Maka pantaslah pembawa konsep Ilahiyah : Nabi Muhammad s.a.w menjadi “the best one of 100 famous persons”. Selain itu hal tersebut diatas, maka dapat dipertimbangkan pula :

Pertama : Ajaran Islam adalah ajaran yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan yang diberikan oleh Allah SWT. Hanya Islam yang masih orisinil keaslianya. Karena Allah sendiri yang memeliharanya, yang sesuai dengan fitrah manusia. Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah (fitrah) Tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan.
Kedua : Ummat Islam kurang lebih berjumlah milyaran atau seperlima penduduk dunia. Dan Islam adalah agama yang paling muda yang penganutnya melebihi agama-agama terdahul. Meski ummat Islam banyak dibantai misalnya di Mongolia, di daerah bekas jajahan komunis,di Pakistan,di Afhanistan, di Irak, dll namun jumlah umat Islam semakin banyak, bagaikan air mengalir mencari tempat rendah.
Ketiga : Kekayaan alam yang melimpah di Negara-negara muslim, misalnya minyak bumi, di Negara-negara wilayah teluk sumber minyak, Brunei Darussalam, Indonesia, di wilayah muslim di Sovyet, di RRC. Ini berkah Allah menyediakan untuk membantu ummat muslim dalam rangka membendung penghinaan terhadap Allah oleh kaum kafir;
Keempat : Peradaban Islam kini banyak dijiplak oleh orang barat. Warisan Universitas Islam di al Hambra (Spanyol) meninggalkan jasa besar. Serangan Mongol ke Irak membawa peradaban Islam. Kita yakin peradaban barat baru 450 tahun, bila dibandingkan dengan peradaban Islam yang 1300 tahun sebanding, pantas kalau embrio peradaban barat adalah peradaban Islam.
Kelima : Janji Allah SWT yang tidak diingkari. Bahwa Allah SWT akan member kekhalifahan-Nya di muka bumi kepada orang yang beriman. Allah berfirman : “dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh behwa Dia bersungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia banar-banar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentousa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa tetap yang (tetap) kafir sesungguhnya (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (Q.S. 24:55)

Dalam mewujudkan suatu pegerakan apapun namanya termasuk kebangkitan Islam harus terbentuk adanya suatu structural yang kokoh kuat, tanpa itu adalah mustahil. Oleh karena itu pergerakan islam harus didukung oleh tiga fase :

Fase pertama : Perumusan ideology dan pemikiran
Fase kedua : Strukturalisasi
Fase ketiga : Perluasan atau ekspansi

Dalam perkembangan sejarah kemanusiaan, bahwa Ideology sebesar apapun harus melalui tiga fase itu. Misalnya : Komunisme, liberalisme, kapitalime dan jangan lupa zionisme Internasional Israel saat ini telah memasuki fase yang ketiga, yaitu Ekspansi dan perluasan ideologi.
Di atas kita sudah menyebutkan penggerak-penggerak Islam secara individual Syayid Jamaludin al Afghani, Dr. Muh. Aqbal, Muh. Abduh, Muh Rasyid Ridhla dan sebangsanya, maka jangan ditinggalkan perlanjutnya ialah : (a). abul A’la Maududi dengan Jama’at Islamiyahnya, dan (b). Asy Syahid Hasan al Bana dengan Ikhwanul Musliminnya. Kedua tokoh ini adalah mempunyai gagasan besar yang sama. Keduanya berpendapat bahwa kejayaan Islam harus dikembalikan kepada “kekhalifahan Islam”. Keduanya berpendapat pergerakan islam harus dimulai dari bawah atau dasar, yaitu :

Persoalan akidah yang kokoh
Pemahaman syariah yang menyeluruh
Pembenahan akhlak yang benar dan mulia

Dan adapun pembenahannya harus dimulai dari : (a). Individu, (b). Keluarga, (c). Masyarakat dan Negara dan barulah Khilafah Islamiyah

Dalam pergerakannya Kedua tokoh itu mempunyai perbedaan sedikit, yaitu :

Abul A’la Maududi dengan Jama’at Islamiyahnya banyak menunjuk pada “figurisme” Maududi
Maududi lemah dalam kaderisasi;
Maududi banyak ceramah dan menulis buku daripada mencetak “kader” dan hanya terbatas pada tanah India – Pakistan;

Berbeda dengan asy Syahid Hasan al Bana dengan Ikhwanul Muslimnya. Meskipun Hasan al Bana tokoh utamanya, namun pergerakannya :
Tidak pada Figurisme Hasan a Bana. Pergerakan ikhwanul muslimin memiliki ketangguhan dan wibawa meskipun Hasan Al-bana telah meninggal dunia.
Pergerakan ikhwanul muslimin telah meluas ke penjuru dunia, kususnya pada Negara-negara islam
Hasan Al-bana Lebih banyak mencetak kader dari pada mencetak buku
Dari pemikirannya telah muncul murid-muridnya : Syayid Quthb, Muhammad Quthb, Hasan al Hadaibi, Umar Tilminasi, Dr. Yusup Qordhowi, Mustafa Masyur, Dr. Ali Juraisyah, Syeih Ahmad qaththan, Dr. Mustafa as Sibai;
Hasan al bana memang tidak mungkin difigurkan, karena umumnya terlalu pendek hanya 43 tahun. Beliau dilahirkan di bumi ini memang ditakdirkan untuk meletakkan dasar-dasar pergerakan serta pola dakwah yang konsisten dan istiqomah, pola dakwah tersebut memang sangat langka di zaman modern ini, karena memerlukan pengorbanan diri dan nyawa. Metode dakwahnya terus dikembangakan oleh para muridnya tanpa ada rasa khawatir originalitasnya. Tanah Palestina adalan ajang pengalaman teori pergerakan Hasan ala Bana. Sebagai wakaf dan sekaligus sebagai semangat “Jihad”. Hasil gerakannya ialah “gerakan Intifadhah” Yaitu suatu gerakan yang sulit ditumpas oleh Zionis Israel. Berbeda dengan gerakan lainnya seperti : (a). Islamic Trend Movement di Tunisia, (b). Front keselamatan Islam di Aljazair, (c) Ikhwanul Muslimin di Jordan, (d). dan Perjuangan Mujahidin di Afghanistan mengusir tentara Sovyet.

Apa benar bahwa kebangkitan Islam mewarnai kegiatan studi Islam di Barat ? dengan menerbitkan buku-buku Islam ? bila benar maka ini membangkitkan optimisme, namun disisi lain kita tidak menutup mata bahwa study yang dibawa dari barat : memiliki muatan sekulerisme dalam barbagai aspek kehidupan. Lalu bagaimana dengan pergerakan islam diIndoensia ? Pada tahun 70-an nampak ada pemulai pembelajaran tentang Islam dari golongan menengah. Bahkan kajian Islam mulai semarak di kota-kota dan di kampus. Disi lain pada saat itu isu pembangunan juga mulai mengarah modernisasi, seperti ucapan moderenisasi “Yes”, westernisasi “no” ! Kita juga sadar bahwa dampak pembangunan dan modernisasi pada saat itu telah mendorong untuk tumbuhnya prilaku sekulerisasime, yang terjadi arus baliknya pada tahun 80-an. Mengapa ? boleh jadi
pembangunan yang beraspek ekonomi mengalami kekeringan nilai-nilai spiritual.

Kita sadar bahwa fenomena sebelum tahun 80-an di Indoensia jika bicara tentang Islam maka kajiannya diserahkan atau menoleh ke organisasi-ogrganisasi Islam, misalnya partai politik Islam, PPP, atau organisasi ke-Islaman, seperti NU, muhammadiyah, HMI, PII dan lainnya. Seolah yang mempunyai Islam hanya organisasi atau partai politik Islam saja. Dan hal ini mulai cair menjelang tahun 80-an. Sesungguhnya dakwah memang tidak monopoli ormas atau parpol Islam semata, dakwah sesungguhnya adalah tugas setiap muslim. Tentu akan lebih efektif bila dalam bentuk organisasi yang terorganisir.

Kita merujuk pada masyarakat kampus sebagai komunitas yang boleh dikatakan representative, misalnya HMI dalam perkembangannya kurang mendapat pasaran, padahal si setiap kampus memiliki Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Baru sesudah tahun 90-an mulai agak efektif dakwah di kampus setelah ada KAMMI.

Di lain pihak muncul gerakan sempalan-sempalan. Sempalan ini penyebabnya ialah karena sumbatan terhadap aspirasi kaum Muslimin yang dilakukan oleh kaum politisi dan birokrat. Hal inilah yang menyebabkan aspirasi-aspirasi murni umat Islam tidak tertampung. Maka munucullah sempatalan, baik dalam bidang ideology, pemikiran syariat, maupun pola-pola pergerakan. Untuk mengembalikan Ajaran Islam agar dapat dijalankan secara utuh, sebagaimana konsep Ilahiyah maka diperlukan adanya Jama’atul Muslimin. Untuk itu perlu mengupas makna ummat Islam dari bahasa atau maupun geografisnya. Agar terwujudnya suatu “syura” sebagai lambang tertinggi yang darinya akan melahirkan berbagai kebijakan sebagai manifestasi “political will” ummat. Berhubungan dengan itu tidak mungkin terwujud syura kalau tanpa “Imamah” atau system kepemimpinan.

Bila timbul pertanyaan siapa imamnya ? jawabanya Yaitu mereka-mereka yang terbina dan terpimpin melalui sistim syura . Dalam wujud dan bentuknya adalah melalui proses seleksi yang sangat selektif berlandaskan kerangka akhlaq karimah,ketaqwaan dan amanah, sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Sunah Rasulullah SAW, prilaku sahabat.Itulah yang dimaksud dengan Jama’atul Muslimin. Selain itu “ sistim syura “ hendaknya memiliki kerangka tujuan yang jelas dan tegas, antara lain yaitu :

Memiliki tujuan umum :
Agar ummat manusia mengabdi kepada Rabb Yang Maha Esa;
Agar senantiasa memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar;
Agar menyampaikan da’wah Islam dengan mau'izhah wal hasanah kepada segenap ummat manusia; sebagai rahmatan lil’alamin
Agar mengahapus fitnah antar manusia dan mengajak segenap ummat islam untuk bersaksi secara benar dan konsisten (syahadatain).


Adapun tujuan khususnya, antara lain :
Pembentukan pribadi muslim (binaa’ al-fard al-muslim);yang memiliki prilaku taqwa, amanah dan mulia.
Pembentukan rumah tangga muslim ( bina’ al-usrah al-muslimah);
Pembentukan masyarakat muslim (binaa’ al-mujtama’ al-muslim); yang berwibawa dan sebagai pengayom bagi bagi yang lemah, apapun agamanya.
Penyatuan antar ummat islam yang dilandasi nilai tauhid (tauhid al-ummah al-Islamiyah)

Boleh jadi para da’i ketika berda’wah mengenang kejatuhan kekhalifahan Turki Usmaniyah, dan mulai memperhatikan hal-hal diatas. Keadaan ini dapat kita lihat dengan tumbuhnya gerakan-gerakan jamaah islamiyah. Namun dalam perjalanannya gerakan jamaah ini kurang memiliki rasa kesatuan dan persatuan antar masing kelompok/golongan jamaah. Gerakan ini masih ditentukan oleh figuritas pemimpin, kurang mengikuti pola pergerakan khulafah rasyidin, yaitu pergerakan dengan tujuan : mempersatukan umat dan meningkatkan kualitas umat dalam rangka mewujudkan rasa ukhuwah serta saling tolong menolong antar sesama umat islam, sebagaimana telah dicontohkan oleh Kaum Anshar (penduduk kota madinah) ketika menolong kaum muhajirin.
Pergerakan islam yang sesungguhnya adalah sebuah pergerakan penyatuan dan persatuan ummat, bukanlah pergerakan untuk kepentingan kelompok atau golongan, apalagi untuk saling memfitnah antar sesama umat islam.

Pada saat ini kita bisa melihat tentang sejarah dan perkembangan pergerakan jamaah islamiyah didunia, yaitu antara lain :

Jama’ah Anshor as-Sunnah al-Muhammadiyah yang bekembang di mesir; Jama’ah ini mewakili gerakan da’wah yang berorientasi pada seruan social dan ilmu serta pengetahuan. Sering juga disebut sebagai gerakan salafy;
Jama’ah Tabligh yang lahir di India, jama’ah ini mewakili gerakan da’wah yang berorientasi Sufiyah;
Jama’ah Hizb at-Tahrir yang lahir di Yordania. Jama’ah ini mewakili da’wah berorientasi politik (as-Siyasi);
Jama’ah Ikhwan al Muslimin yang didirikan di Mesir. Jama’ah yang mewakili gerakan da’wah memiliki orientasi “syamil”(menyeluruh). Jama’ah ini berda’wah dalam berbagai aspek (syamil). Yaitu social, ilmu, pengetahuan, sufiyah, siasyyah dan bahkan harakiyyah dan Jihadiyyah (pergerakan sekaligus Jihad. Boleh jadi gerakan da’wah Ikhwanul Muslimin, seperti Jama’at Islami di Pakistan, Masyumi di Indonesia, Hizb at-tahrir di indonesia dan Fida’iyah Islam di Iran).

Dengan beberapa uraian diatas, maka kita patut bertanya mengapa ummat Islam diremehkan ? lalu apa yang ada dalam benak kita ? Apa ummat Islam terpuruk setelah runtuhnya Dinasti Turki Usmaniyyah ? Apakah sistim khilafah sebagai jawabannya ? bentuk Jawabannya tentu ada pada diri kita semua. Yang terpenting kita harus segera menjawab : bahwa Ummat islam harus memiliki wibawa dan tidak untuk diremehkan oleh siapapun. Ummat Islam harus dibimbing dalam bentuk amal nyata,cerdas dan berkualitas (uswah hasanah) bukan dengan prilaku mementingkan kepentingan pribadi atau golongan. Kita harus berani memenggal kepentingan pribadi/golongan demi mewujudkan kepentingan umat. Bukankah Rasulullah telah mendidik kita semua : agar kita menjadi umatnya yang cerdas, memiliki jiwa pengorbanan,mementingkan kepentingan saudara seiman dan sangat membenci pada mereka yang mementingkan kepentingan pribadi dan golongan, serta membenci pada umatnya yang gemar memfitnah dan saling membunuh antar sesama saudara. Wallahu a’lam bisawab

Hormat kami,
Prima Remolda

No comments:

Post a Comment