Monday, March 9, 2009

REPOSISI KURIKULUM ISLAM TERPADU ( Lanjutan )

Program Pengembangan Kurikulum

Dengan adanya landasan ideal, landasan yuridis dan visi-misi lembaga, maka sivitas lembaga mulai merumuskan dan membuat beberapa Program kegiatan pengembangan Kurikulum Islam Terpadu (KITD). Adapun program tersebut antara lain adalah:

• Penyusunan panduan pengembangan KITD
• Penyusunan rancangan KITD pada setiap jenjang yang saling berkaitan.
• Pengembangan silabus KITD
• Pengembangan bahan ajar KITD
• Pengembangan standar kelayakan lulusan
• Pengembangan sistem evaluasi KITD

Kurikulum Islam terpadu = Kurikulum Total

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (An-Nisaa’:9).

Kurikulum ini dirancang sebagai upaya menjadi qaulan sadiida untuk menjadikan generasi penerus yang bertaqwa kepada Allah secara total dan komprehensif serta dapat membentuk peradaban dan kebudayaan Islam.
Peradaban dan kebudayaan Islam memiliki beberapa keungulan, yaitu : (1) mencakup makna dan nilai dasar serta keindahan peradaban; (2) mengajarkan agar kita selalu mengambil pelajaran dari alam sebagai suatu sistem ciptaan Allah yang maha sempurna; (3) memandang segala sesuatu atau peristiwa sebagai tanda kebesaran Allah; (4) manusia sebagai mahluk memaknakan dirinya sebagai orang yang mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada sang Pencipta; (5) akal pikiran manusia memiliki kebebasan namun tetap tunduk kepada Risalah Ilahiyah sebagai nurun ’ala nurin, cahaya atas cahaya
Yang dimaksud dengan peradaban Islam adalah keseluruhan manifestasi kehidupan umat Islam yang bertolak dari aqidahnya menurut agama Islam yang bersumberkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam wujudnya yang minimal, peradaban Islam merupakan kehidupan umat yang ”membaca dengan nama Allah” (QS.al-Alaq:1-5); dan dalam wujudnya yang maksimal merupakan manifestasi kehidupan umat yang ”menyempurnakan keberagaman Islam” (QS. Al-Maidah: 5-3). Jadi, membangun peradaban Islam adalah meningkatkan mutu untuk mencapai kesempurnaan kehidupan beragama Islam dalam segala bidang kehidupan secara utuh.

Dengan demikian maka pengertian kurikulum dalam hal ini adalah segala sesuatu yang direncanakan untuk mencapai terwujudnya generasi Islam yang memiliki peradaban Islam bermutu dalam segala bidang kehidupan untuk rahmatan lil alamin sebagaimana amanah yang harus dipikul oleh umat manusia dan sebagai khalifah di alam semesta.

Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Al-Ahzab:72)

Dasar Implementasi Kurikulum

1.Islam, Ilmu dan Alam

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Al-Fushilat:53).

Ayat di atas merupakan dasar pengembangan karakter kurikulum islam, yaitu Islam, Alam dan ilmu. Peradaban dan kebudayaan Barat lebih unggul dalam mempelajari ”tanda-tanda” kebesaran ALLAH ( Alam semesta ) dan melupakan Pencipta / Pemilik tanda-tanda kebesaran tersebut. Sebaliknya, sebagian umat Islam kini melupakan untuk mempelajari ”tanda-tanda” kebesaran Allah di muka bumi, dan lebih senang mengkaji dan mempelajari ayat-ayat yang tertera didalam Al-Quran. Generasi Islam mendatang diharapkan adalah manusia yang serius mempelajari ”tanda-tanda” kekusaan Allah dalam rangka lebih meyakini kebenaran ayat-ayat Al-Quran. Penguasaan pengetahuan tentang ”tanda-tanda kekuasaan Allah” akan menjadikan generasi Islam menjadi generasi unggul dan kreatif di muka bumi.

Implementasi konsep Islam, Ilmu dan Alam dalam kurikulum, hendaknya dilakukan dalam tatanan berfikir serta sikap, sebagai berikut:

- ISLAM. Pedoman umum, standar isi, bidang studi dan mata pelajaran dalam kurikulum adalah penjabaran tentang nilai-nilai Islam. Dalam KBM setiap guru adalah guru yang mengajarkan nilai-nilai Islam. Guru sains, matematika, atau bahasa adalah guru yang mengajarkan ke-Islam-an melalui sains, matematika, atau bahasa.
- ILMU adalah semua pengetahuan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya semesta ini.
- ALAM. Kehidupan manusia, mahluk hidup lainnya dan alam semesta merupakan laboratorium untuk lebih memahami dan menguasai pengetahuan tentang ”tanda-tanda” kekuasaan Allah. Alam di sini berfungsi sebagai sumber belajar.

Alam adalah objek pengetahuan; Ilmu adalah metodologi pengetahuan. Keduanya tak terpisahkan agar pengetahuan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah dapat dimengerti dan dimanfaatkan untuk kepentingan luhur, menjadi rahmat bagi seluruh alam serta lebih meningkatkan rasa ketaqwaan. Kejayaan Islam sangat ditentukan oleh keberhasilan penguasaan pengetahuan ini.

Tujuan dari konsep ini adalah generasi Islam memiliki ahlak mulia terhadap diri sendiri, orang lain, dan terhadap alam semesta. Oleh karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat manusia lainnya; dan sebaik-baik di antaramu adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya khairukum man ta’allamal qur’an wa ’allamahu (HR Utsman dan Ali).

2.Rasional-Terpadu dan Bermakna

Alam semesta merupakan sistem besar yang sangat sempurna, yang terdiri atas sub-sub sistem yang lebih kecil yang tidak kalah sempurnanya. Hal ini berarti bahwa setiap mata pelajaran merupakan sub-sub sistem yang saling terkait dengan sistem lainnya yang membentuk sistem pengetahuan tanda-tanda kekuasaan Allah.
Terpadu bukanlah kumpulan sistem yang berdiri sendiri. Konsep terpadu dalam KITD di-benangmerah-i oleh konsep Islam. Implementasi dalam pembelajaran adalah seperti dalam implementasi ISLAM yang telah dijelaskan di atas.
Konsep terpadu dengan nilai Islam adalah seperti terpadunya air dengan susu, bukan seperti terpadunya air dan minyak. Setiap upaya pengaitan haruslah rasional dan bermakna hingga lebih mudah dipahami.
Secara teoretik konsep pembelajaran bermakna adalah bersifat: konstruktif, kolaboratif, konversasional, reflektif, kontekstual, kompleks, intensional, dan aktif. Konsep ini sekaligus telah memenuhi standar nasional pendidikan untuk proses pembelajaran.

Mudah-mudahan hal ini bermanfaat dan dapat digunakan sebagai refrensi dalam melakukan revitalisasi kurikulum islam yang lebih terpadu, bermakna dan berkualitas. Semoga Allah meridhai niat kita bersama dan memberikan balasan sesuai dengan amal dan perbuatan yang kita lakukan .. Amiin.

Wallahua’lam bisawab

Hormat kami,
The EDC Indonesia
_____________________________________________

No comments:

Post a Comment